Search This Blog

Monday, 16 December 2019

EUBACTERIA


Istilah bakteri berasal dari bahasa Yunani, yaitu bacterion yang artinya batang kecil. Sel-sel bakteri berukuran sangat kecil sehingga hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Bakteri merupakan mikroorganisme yang penyebarannya di alam paling luas.
1.        Struktur Bakteri
Struktur sel bakteri dapat dikatakan masih sangat sederhana. Pada setiap sel bakteri terdapat beberapa komponen penting, yaitu dinding sel, membrane sel, sitoplasma, dan bahan inti serta beberapa organel sel. Organel tertentu misalnya flagellum, pilus, kapsul, dan endospore, mungkin hanya dimiliki oleh jenis bakteri tertentu dan tidak dimiliki oleh jenis bakteri lainnya.


a.      Bahan Inti (DNA kromosom)
Bahan inti bakteri tersusun oleh asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid/DNA) atau disebut juga DNA kromosom. Sebagian besar bakteri hanya memiliki satu DNA kromosom berutas ganda yang berbentuk sirkuler (cincin). DNA kromosom membawa gen-gen yang penting untuk mengatur proses-proses yang terjadi di dalam sel bakteri. Bahan inti bakteri terdapat di dalam suatu bagian menyerupai inti yang disebut nucleoid. Nucleoid sel bakteri tidak memiliki membrane atau dinding inti sel dan nucleolus.

b.      Plasmid
Umumnya bakteri memiliki plasmid yang berbentuk cincin. Plasmid adalah suatu DNA di luar DNA kromosom. Plasmid berisi gen-gen penting untuk pertahanan diri terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Plasmid terdapat di dalam sitoplasma.

c.       Sipolasma
Sitoplasma merupakan cairan yang bersifat koloid dan berisi semua molekul ataupun zat yang diperlukan dalam proses metabolisme untuk menunjang kehidupan sel. Di dalam sitoplasma sel bakteri terdapat ribosom, mesosom, dan plasmid.

d.      Ribosom
Ribosom merupakan organel sel yang berfungsi untuk sintesis protein. Ribosom terdapat pada semua sel, tetapi ribosom organisme prokariota berbeda strukturnya dengan ribosom organisme eukariota.

e.      Mesosom
Mesosom merupakan daerah membrane sitoplasma yang mengalami pelipatan. Mesosom diperkirakan berfungsi dalam pembentukan dinding sel dan pembelahan sel.

f.        Endsospora
Bakteri tertentu, misalnya Bacillus dan Clostridium, dalam kondisi tidak menguntungkan dapat membentuk struktur khusus yang disebut endospora. Endospora merupakan suatu struktur/spora berdinding tebal dan sangat tahan terhadap kondisi lingkungan yang jelek. Endospore akan tumbuh menjadi sel vegetative jika berada di tempat yang tidak sesuai. Tidak seperti pada organisme pembentuk spora lainnya, endospore pada sel bakteri bukan merupakan alat perkembangbiakan. Hal itu disebabkan satu sel bakteri hanya menghasilkan satu endospore dan apabila sudah berkecambah biasanya hanya menghasilkan satu sel bakteri. Kemapuan bakteri untuk menghasilkan endospore dapat hilang dan jika hilang, sulit untuk tumbuh kembali.

g.      Membran Sitoplasma
Membrane sitoplasma atau membrane plasma merupakan selaput yang membungkus sitoplasma beserta isinya. Letaknya dibawah dinding sel, tetapi tidak terikat dengan dinding sel. Membrane plasma tersusun atas lapisan lipoprotein yang bersifat semipermeable. Fungsi membrane plasma, antara lain :
1)      Mengatur keluar masuknya zat-zat di dalam sel, seperti gula,asam amino, dan zat-zat metabolic lainnya yang merupakan komponen sitoplasma
2)      Sebagai tempat perlekatan pangkal flagellum.
Jika membrane plasma pecah atau rusak, sel bakteri akan mati.

h.      Dinding Sel
Dinding sel adalah bagian sel bakteri yang berfungsi memberi bentuk dan kekuatan/perlindungan terhadap sel. Dinding sel bakteri tersusun atas bahan peptidoglikan, yaitu suatu molekul yang mengandung rangkaian amino disakarida dan rantai peptida. Dinding sel ini relative kaku dibandingkan bagian-bagian sel bakteri lainnya.

i.        Kapsul
Kapsul merupakan lapisan lender yang menyelubungi dinding sel. Fungsinya untuk pertahanan diri dan cadangan makanan. Tidak semua bakteri berkapsul.

j.        Pili (Fimbriae)
Pada permukaan sel bakteri Gram negative sering kali terdapat banyak alat seperti benang-benang pendek yang disebut pili. Pili digunakan sebagai alat lekat dengan bakteri lain atau dengan bahan-bahan padat yang merupakan makanan bakteri. Salah satu pili, yang disebut sex pilus (pilus kelamin), berfungsi sebagai saluran penghubung dalam perpindahan materi genetic (DNA) ketika suatu bakteri berkonjugasi. Umumnya, setiap sel bakteri hanya memiliki satu atau dua pilus kelamin.

k.       Flagellum
Flagellum tidak dijumpai pada semua bakteri. Fungsi flagellum adalah untuk membantu pergerakan bakteri. Jumlah dan letak flagellum pada sel bakteri bermacam-macam. Berdasarkan jumlah dan letak flagellum, bakteri dapat dibedakan menjadi 4 macam :
1)      Atrik, yaitu bakteri yang tidak memiliki flagellum;
2)      Monotrik, yaitu bakteri yang memiliki satu flagellum pada salah satu ujung sel bakteri;
3)      Lofotrik, yaitu bakteri yang memiliki dua atau lebih flagella di kedua ujung sel bakteri;
4)      Amfitrik, yaitu sel bakteri yang memiliki dua atau lebih flagella di kedua ujung sel bakteri;
5)      Peritrik, yaitubakteri yang memiliki flagella di seluruh permukaan sel bakteri.

2.        Reproduksi Bakteri
Pada bakteri dikenal dua macam cara reproduksi, yaitu secara aseksual dan seksual. Cara aseksual terjadi dengan pembelahan biner, sedangkan cara seksual dengan konjugasi.

a.      Pembelahan Biner
Pada pembelahan biner sel bakteri membelah menjadi dua sel anak. Yang umum terjadi adalah pembelahan biner melintang. Pembelahan ini berlangsung sangat cepat. Beberapa bakteri hanya memerlukan waktu kurang dari 20 menit untuk membelah menjadi dua.
b.      Konjugasi
Konjugasi merupakan cara reproduksi bakteri secara seksual. Konjugasi terjadi jika satu bakteri memindahkan bahan genetiknya ke dalam sel bakteri lain. Proses pemindahan ini melalui alat yang disebut pilus kelamin (sex pilus). Bakteri yang memindahkan bahan genetic disebut bakteri donor atau “bakteri jantan”, sedangkan penerimanya disebut bakteri resipien atau “bakteri betina”. Bahan genetic yang dipindahkan dari bakteri donor akan bergabung dengan bahan genetic bakteri resipien sehingga terjadi perubahan sifat. Jika bakteri resipien membelah, akan dihasilkan sel anak bakteri dengan sifat yang baru.

3.        Peran Bakteri dalam Kehidupan Manusia
a.      Bakteri yang Menguntungkan Manusia
1)      Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophiles, dan Streptococcus lactis, digunakan dalam pembuatan yogurt;
2)      Acetobacter xylinum, digunakan dalam pembuatan nata de coco;
3)      Acetobacter aceti, digunakan dalam pembuatan asam asetat;
4)      Streptomyces griceus, menghasilkan antibiotic sikloheksiimid;
5)      Streptomyces erythraeus, menghasilkan antibiotic eritromisin;
6)      Bacillus subtilis, menghasilkan enzim protease yang digunakan pada industry detergen dan menghasilkan antibiotic subtilisin;
7)      Rhizobium dan Bradyrihzobium, dapat bersimbiosis dengan akar tanaman polong-polongan (Leguminoceae) untuk mengikat atau memfiksasi nitrogen dari udara bebas menjadi nitrat (NO3) sehingga dapat menyuburkan tanaman;
8)      Bacillus thuringiensis, menghasilkan racun yang dapat membunuh serangga hama sehingga digunakan sebagai bioinsektisida;
9)      Brefidibacterium flavum, digunakan untuk memproduksi asam amino glutamate untuk penyedap masakan;
10)  Cellulomonas, hidup di dalam perut ruminansia untuk membantu proses pencernaan makanan;
11)  Thiobacillus ferro-oxidans dan Thiobacillus thio-oxidans, digunakan untuk penambangan tembaga, perak, dan emas secara biologis;
12)  Berbagai jenis bakteri tanah sangat berjasa pada manusia karena membusukkan dan menguraikan sampah, sisa-sisa tumbuhan, dan bangkai hewan ataupun manusia.

b.      Bakteri yang Merugikan Manusia
1)      Bacillus anthracis, penyebab penyakit antraks;
2)      Corynebacterium diphtheria, penyebab penyakit difteri;
3)      Vibrio cholera, penyebab penyakit kolera;
4)      Staphylococcus aureus, pathogen pada kulit dan jaringan yang lunak;
5)      Streptococcus pyogenes, penyebab penyakit faringitis;
6)      Streptococcus pneumonia, penyebab penyakit paru-paru;
7)      Streptococcus agalactiae, penyebab penyakit meningitis;
8)      Salmonella typhi, penyebab penyakit tipus;
9)      Haemophilus influenza, penyebab penyakit bronchitis;
10)  Neisseria gonorrhoeae, penyebab penyakit gonorea;
11)  Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit TBC;
12)  Treponema pallidum, penyebab penyakit kelamin sifilis;
13)  Clostridium botulinum, dapat menghasilkan racun yang berbahaya pada makanan kaleng.


Sunday, 15 December 2019

VIRUS, SEJARAH PENEMUAN VIRUS, STRUKTUR TUBUH VIRUS, REPRODUKSI VIRUS


A.   SEJARAH PENEMUAN VIRUS
Sejarah penemuan virus diawali pada tahun 1876 ketika Adolf Edward Meyer mengamati adanya penyakit pada daun tembakau yang sangat menular. Penyakit tanaman itu ia beri nama penyakit mosaic. Ia kemudian meneliti dan menyimpulkan bahwa penyakit itu tidak disebabkan oleh mikroorganisme ataupun kekurangan unsur hara. Ia menduga bahwa penyakit itu ditularkan oleh “zat semacam enzim yang larut”.
Percobaan Adolf Edward Meyer :

Pada tahun 1892, Dmitri Ivanowski meneliti penyakit mosaic pada tanaman tembakau. Caranya, ia membuat filtrate daun tembakau yang terkena penyakit tersebut. Ternyata, filtrate tersebut dapat menyebabkan penyakit yang sama pada tanaman lain yang sehat. Ketika perlakuan tersebut diulang, hasilnya tetap sama.
Percobaan Dmitri Ivanowski :

Tahun 1895, Dr. Martinus W. Beijerinck, menggunakan cara yang sama dengan Ivanowski untuk meneliti penyakit mosaic pada tanaman tembakau. Ia juga menemukan bahwa penyebab penyakit tersebut dapat melewati saringan bakteri Chamberland. Ia kemudian dapat membuktikan bahwa zat penular penyakit mosaic tersebut berbeda secara esensial dengan mikroorganisme (bakteri).

Pada tahun 1935, Wendell Meredith Stanley berhasil mengkristalkan virus penyebab penyakit mosaic tembakau yang diberi nama virus mosaic tembakau (tobacco mosaic virus/TMV). Subatansi tersebut tetap memiliki daya pathogen tinggi, meskipun sudah mengalami penghabluran berkali-kali.

B.   STRUKTUR VIRUS


  1.      Inti
Inti virus tersusun atas satu jenis asam nukleat. Asam nukleat tersebut bersifat khas dan merupakan salah satu dasar pengelompokan (klasifikasi) virus. Berdasarkan jenis asam nukleatnya, virus dikelompokkan menjadi dua, yaitu virus DNA dan virus RNA.
  a.      Virus DNA
Sesuai dengan namanya, virus ini memiliki asam nukleat DNA. Berikut ini adalah beberapa nama family virus DNA beserta contohnya.
  1)      Myoviridae, contohnya fag T4 (virus pada bakteri)
  2)      Herpesviridae, contohnya Simplexvirus (virus herpes) dan Cytomegalovirus, keduanya virus pada manusia.
  3)      Circoviridae, contohnya Chicken anemia virus (virus anemia pada ayam);
  4)      Hepadnaviridae, contohnya Orthohepadnavirus (virus hepatitis B pada manusia).

  b.      Virus RNA
Kelompok virus ini berbahan genetic RNA. Berikut ini adalah beberapa nama family virus RNA beserta contohnya :
  1)      Retroviridae, contohnya HIV (human immunodeficiency virus);
  2)      Paramyxoviridae, contohnya Morbilivirus (virus campak pada manusia);
3)      Rhabdoviridae, contohnya Lyssavirus (virus rabies pada vertebrata);
4)      Orthomyxoviridae, contohnya Orthomyxovirus (virus influenza pada manusia);
5)      Arenaviridae, contohnya Arenavirus (virus meningitis pada manusia);
6)      Picornaviridae, contohnya Enterovirus (virus polio), Hepatovirus (virus hepatitis A), dan Aphtovirus (virus penyakit kuku dan mulut);
7)      Coronaviridae, contohnya Coronavirus (virus flu burung);
8)      Togaviridae, contohnya Rubivirus (virus rubella pada manusia), dan Tobamovirus (virus mosaic pada tanaman tembakau).

  2.      Selubung Protein
   Selubung protein (kapsid) adalah selubung yang     membungkus asam nukleat (DNA atau RNA)         sehingga disebut juga nukleokapsid. Kapsid           tersusun atas subunit-subunit protein yang              disebut kapsomer. Kapsid ada yang berbentuk        icosahedral, heliks, atau bentuk lainnya. Kapsid      memiliki tiga fungsi, yaitu :
        a.      Membungkus dan melindungi asam nukleat             agar tidak tercerna oleh enzim,
        b.      Memberikan tempat perlekatan yang                         memungkinkan virion dapat melekat pada sel            inang, dan
       c.       Memberi bentuk pada virion.

  3.      Amplop
  Amplop adalah membrane lipid (lemak) yang          mengelilingi kapsid. Amplop ditemukan hanya        pada beberapa virus, contohnya virus influenza.      Virus ini disebut “virus beramplop” sebagai          kebalikan dari virus telanjang. Amplop tersusun    atas dua lapis lemak yang diselingi molekul            protein (lipoprotein bilayer) dan mengandung          bahan-bahan dari membrane sel inang.


C.   REPRODUKSI VIRUS
Reproduksi virus berlangsung dengan proses replikasi, yaitu protein-protein kapsid dan asam nukleatnya memperbanyak diri di dalam sel inang. Virus dapat bereproduksi dengan cara siklus litik atau siklus lisogenik.
1.      Siklus Litik
Cara reproduksi tipe ini selalu diakhiri dengan lisis ataupecahnya sel inang untuk melepaskan fag-fag baru. Oleh karena itulah, siklus ini disebut siklus litik. Sel inang yang mengalami lisis selanjutnya akan mati. Virus yang menyebabkan pecahnya sel inang disebut virus virulen.  Contoh virus virulen adalah bateri fag T4, yaitu virus yang menginfeksi bakteri Eschericia coli.

Siklus litik terdiri atas lima tahap, yaitu perlekatan, penetrasi, replikasi, sintesis, perakitan serta pembebasan fag.
a.      Perlekatan
Perlekatan adalah peristiwa melekatnya fag pada dinding sel bakteri. Fag melekat pada sel bakteri melalui ekor dan serabut ekornya. Perlekatan tersebut hanya terjadi pada tempat khusus yang sesuai. Tempat yang sesuai itu disebut reseptor. Reseptor tersebut harus benar-benar cocok bagi fag karena jika tidak, virus tidak dapat melakukan perlekatan. Dengan kata lain, tidak setiap virus dapat melekat pada sembarang bakteri.

b.      Penetrasi
Penetrasi merupakan peristiwa penyuntikan DNA fag ke dalam sel bakteri. Pada peristiwa ini, DNA fag masuk ke dalam sel, sedangkan selubung proteinnya tetap tinggal di luar sel. Fag menghasilkan enzim lisozim yang merusak dinding sel bakteri sehingga mempermudah penetrasi.

c.       Replikasi dan Sintesis
Bagian virus yang memasuki sel adalah DNA pembawa informasi yang diperlukan bagi sintesis partikel-partikel virus baru. DNA virusn atau fag yang masuk tadi segera mengambil alih perlengkapan metabolisme sel inang. DNA fag mengambil alih ribosom sel bakteri untuk menyintesis protein virus yang berupa enzim. Enzim virus menyebabkan replikasi DNA fag. Bersamaan dengan itu, DNA bakteri dirusak dan sintesis DNA serta protein bakteri juga dihentikan. Selanjutnya, terjadi pembentukan protein penyusun kapsid, baik untuk bagian kepala, ekor, maupun serabut ekor.
  
d.      Perakitan
Setelah semua bagian-bagian fag terbentuk dengan lengkap, akhirnya DNA-DNA fag dan protein-protein selubung dirakit menjadi fag yang lengkap (virion). Pada tahap ini, mula-mula akan dirakit protein-protein yang menyusun kapsid, selanjutnya kapsid diisi dengan DNA yang merupakan intinya. Setelah itu, baru ditambahkan komponen ekornya.

e.      Pelepasan Fag
Pada tahap ini dinding sel bakteri akan dilisiskan oleh enzim lisozim fag dan diikuti dengan pelepasan fag-fag baru. Pada peristiwa ini dapat dihasilkan 200 fag baru yang siap menginfeksi bakteri lain untuk memulai siklus litik lagi. Waktu yang diperlukan dari perlekatan sampai pelepasan fag baru bervariasi bergantung pada jenis virusnya, tetapi berkisar 20 hingga 40 menit. Virus T memerlukan waktu kira-kira 25 menit untuk satu siklus.


2.      Siklus Lisogenik
Pada siklus lisogenik, fag yang menginfeksi tidak menyebabkan lisisnya sel inang. Virus semacam ini disebut temperate (moderat). Tiddak seperti virus virulen yang melisiskan sel inang, virus temperate tidak selalu menghancurkan sel inang. Tahap-tahap pada siklus lisogenik hampir sama  dengan tahap-tahap pada siklus litik. Pertama-tama, virus akan melekat pada sel inang, kemudian akan melakukan penetrasi DNA-nya. Setelah DNA fag masuk, DNA fag ini tidak merusak metabolism bakteri, tetapi bergabung dengan DNA bakteri. Fag yang bergabung dengan DNA bakteri disebut profag.

Dalam keadaan bergabung dengan DNA inang, DNA profag bereplikasi bersama dengan DNA bakteri dan tunduk pada aturan DNA bakteri. Jika bakteri membelah diri, profag juga akan ikut membelah sehingga sel anakan bakteri selalu membawa profag baru. Dalam kondisi normal, profag akan nyaman bergabung dan ikut memperbanyak diri bersama bakteri yang ditumpanginya (bersifat laten). Namun, jika tiba-tiba kondisi menjadi tidak nyaman, misalnya ada sinar ultraviolet profag akan keluar dari DNA bakteri, selanjutnya ia dapat memperbanyak diri di dalam sel sebagai fag virulen. Jadi, fag akan melakukan siklus litik yang menyebabkan lisisnya sel inang dan pelepasan fag-fag baru. Contoh virus yang mengalami siklus lisogenik adalah virus herpes dan HIV.

Friday, 13 December 2019

KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP


A.       DASAR KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP
Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokkan yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Sejak zaman dahulu kala, manusia telah mencoba untuk mengelompokkan (mengklasifikasi) hal-hal yang memiliki persamaan. Sebagai contoh, manusia selalu mengklasifikasikan makhluk hidup. Pada awalnya, manusia hanya membedakan antara tumbuhan dan hewan. Selanjutnya, manusia membagi lagi tumbuhan dan hewan menjadi beberapa kelompok berdasarkan manfaatnya, misalnya bahan pangan, tumbuhan obat, dan tumbuhan beracun.

Pada masa kini, semua ahli biologi menggunakan suatu system klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian, setiap kelompok tumbuhan ataupun hewan tersebut dipasangkan-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh Jhon Ray yang bersala dari Inggris. Namun, ide tersebut disempurnakan oleh Carl von Linne , seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang pada masa sekarang dikenal dengan nama Carolus Linnaeus.

System klasifikasi yang pertama kali dikenalkan adalah system klasifikasi yang dibuat oleh Aristoteles pada abad ke-4 SM. Aristoteles mengelompokkan hewan berdasarkan kriteria tertentu, seperti cara reproduksinya da nada tidaknya darah merah. Seorang murid Aristoteles bernama Theophrastus mengklasifikasi tumbuhan berdasarkan kegunaan dan cara-cara penanamannya.

System klasifikasi Linnaeus tetap digunakan sampai sekarang karena sifatnya yang sederhana dan fleksibel sehingga suatu organisme baru tetap dapat dimasukkan dalam system klasifikasi tersebut dengan mudah. Nama-nama yang digunakan dalam system klasifikasi Linnaeus ditulis dalam bahasa Latin karena pada zaman Linnaeus bahasa Latin adalah bahasa yang dipakai dalam pendidikan resmi.

Klasifikasi dapat dipelajari dalam cabang biologi yang dinamakan Taksonomi. Ilmu tersebut mempelajari identifikasi (pemberian nama) dan klasifikasi (pengelompokkan) makhluk hidup berdasarkan aturan-aturan tertentu.

B.        TUJUAN KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP
Tujuan klasifikasi makhluk hidup antara lain :
1.      Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki
2.      Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup jenis lain
3.      Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
4.      Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama.

C.        MACAM-MACAM SISTEM KLASIFIKASI
1.      Sistem Artifisial atau Buatan
System artifisial adalah klasifikasi yang menggunakan satu atau dua ciri yang mudah diamati yang ada pada makhluk hidup. System ini disusun dengan menggunakan ciri-ciri atau sifat-sifat yang sesuai dengan kehendak manusia atau sifat lainnya.

Tokoh system artifisial antara lain Aristoteles yang membagi makhluk hidup menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan (Plantae) dan hewan (Animalia). Ia pun membagi tumbuhan menjadi kelompok pohon, perdu, semak, terna, dan memanjat. Tokoh lainnya adalah Carolus Linnaeus yang mengelompokkan tumbuhan berdasarkan alat reproduksinya.

2.      System Alami
Klasifikasi system Alami dirintis oleh Michael Adam dan Jean Baptis de Lamarck. sistem ini menghendaki terbentuknya kelompok-kelompok takson yang alami. Artinya anggota-anggota yang membentuk unit takson terjadi secara alamiah atau sewajarnya seperti yang dikehendaki oleh alam.

System klasifikasi alami menggunakan dasar persamaan dan perbedaan morfologi (bentuk luar tubuh) secara alami atau wajar. Contoh, hewan berkaki empat, tidak berkaki, hewan bersayap, hewan bersirip, hewan berbulu, hewan bersisik dan berambut. Sementara itu, pada tumbuhan, ada kelompok tumbuhan berkeping dua dan tumbuhan berkeping satu.

3.      System Filogenetik
System ini pertama kali dikemukakan oleh Charles Darwin. Menurut Darwin, terdapat hubungan antara klasifikasi dan evolusi. System filogenetik disusun berdasarkan jauh dekatnya kekerabatan antara takson yang satu dan lainnya. Selain mencerminkan persamaan dan perbedaan sifat morfologi, anatomi, ataupun fisiologinya, system ini pun menjelaskan mengapa semua makhluk hidup memiliki kesamaan molekul dan biokimia, tetapi berbeda-beda dalam bentuk susunan dan fungsinya.

D.       PROSES KLASIFIKASI
1.      Pencandraan (Identifikasi)
Mencandra adalah mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasikan. Untuk mencandra atau mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan alat pembanding. Alat pembanding tersebut dapat berupa gambar, specimen, hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya, serta kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi.

Salah satu kunci identifikasi adalah kunci analisis menggunakan ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan kuplet yang terdiri atas dua bait pernyataan atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri yang saling berlawanan sehingga disebut kunci dikotomis.

Dalam emnggnakan kunci determinasi, setiap spesies yang akan diidentifikasi dihadapkan pada dua ciri-cri morfologi yang salah satunya paling sesuai dengan spesies tersebut. Apabila sudah diperoleh ciri-ciri yang sesuai dengan spesies tersebut, kita kemudian menuju ciri-ciri berikutnya, sesuai dengan angka yang tercantum di belakang ciri-ciri tersebut. Demikian seterusnya, sampai diperoleh nama spesies tersebut.
Untuk lebih memahami cara penggunaan kunci determinasi, perhatikan contoh berikut ini. Gunakan kunci determinasi sederhana berikut untuk mengidentifikasi Vertebrata pada gambar 1.1.


Kunci determinasi untuk gambar 1.1.
1.      a. Vertebrata yang memiliki rambut atau bulu ………………………..  ke nomor 2
b. Vertebrata yang tidak memiliki rambut atau bulu …………......  ke nomor 3
2.      a. Rambut atau kumis tumbuh di wajah atau tubuh ……………….. Mammalia
b. Bulu menutupi hampir seluruh tubuh …………………………………. Aves
3.      a. Tubuh ditutupi sisik …………………………………………………………….. Ke nomor 4
b. Tubuh tidak bersisik; kulit basah dan tipis …………………………… Amphibia
4.      a. Bernapaas dengan paru-paru; bertelur di darat ………………….. Reptilia
b. Bernapas dengan insang; bertelur di air …………………………….. Pisces

Perhatikan gambar 1.1 (a) dengan seksama. Pilihlah pernyataan (ciri-ciri morfologi) pada petunjuk 1 yang sesuai dengan gambar hewan di atas. Anda akan melihat hewan tersebut tidak memiliki rambut atau bulu sehingga Anda harus menuju petunjuk 3. Ikuti terus petunjuk-petunjuk tersebut hingga Anda sampai pada kelompok tempat hewan tersebut tergabung. Hewan tersebut adalah buaya sehingga ia termasuk kelompok Reptilia. Tulislah nomor-nomor dari tiap petunjuk yang Anda gunakan beserta nama kelompoknya. Misalnya, hewan (a) memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan nomor 1.b, 3.a., dan 4.a.: kelompok Reptilia.

2.      Pengelompokan
Setelah diketahui ciri-cirinya, suatu makhluk hidup dapat dikelompokkan dengan makhluk hidup lain yang memiliki ciri-ciri serupa. Makhluk–makhluk hidup dengan ciri-ciri serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson. Takson merupakan kelompok atau unit yang terbentuk sebagai hasil klasifikasi makhluk hidup. Menurut kesepakatan internasional, ada tujuh tingkat takson yang disusun dari tingkat tinggi hingga tingkat rendah. Makin rendah tingkat takson, makin sedikit anggota takson tersebut tetapi makin banyak persamaan ciri-ciri yang dimiliki anggotanya.

Kita ambil contoh suatu kelompok hewan terdiri atas kerbau, sapi, belalang, capung, siput, merpati, ular, buaya, kucing, harimau, udang, dan kelinci. Hewan-hewan tersebut dapat kita bagi menjadi dua kelompokk, yaitu :
a.      Kelompok A, yang terdiri atas hewan-hewan bertulang belakang, antara lain kerbau, sapi, merpati, ular, buaya, kucing, harimau, dan kelinci;
b.      Kelompok B, yang terdiri atas hewan-hewan tidak bertulang belakang, antara lain belalang, capung, siput, dan udang.

Kemudian kelompok A dapat kita bagi lagi menjadi
a.      Kelompok A1, yang terdiri atas hewan-hewan menyusui,, yaitu kerbau, sapi, kucing, harimau, dan kelinci;
b.      Kelompok B2, yang terdiri atas hewan-hewan melata, yaitu buaya, dan ular.

Kelompok A, dapat kita bagi lagi menjadi
a.      Kelompok A11, yang terdiri atas hewan-hewan pemakan daging, yaitu harimau dan kucing;
b.      Kelompok A12, yang terdiri atas hewan-hewan pemakan tumbuhan, yaitu sapi, kerbau, dan kelinci.

3.      Pemberian Nama Takson
Contoh pemberian nama takson adalah sebagai berikut.
a.      Kelompok A diberi nama VERTEBRATA karena semua anggotanya memiliki tulang belakang (vertebrae)
b.      Kelompok A1 diberi nama Mammalia karena semua anggotanya mempunyai kelenjar susu (glandula mammae) untuk menyusui anaknya.
c.       Kelompok A11 diberi nama karnivora karena semua anggotanya adalah pemakan daging (carn = daging; vor =memakan)

E.        Tingkatan Takson dalam Sistem Klasifikasi
1.      Kingdom (Dunia atau Kerajaan)
Kindom merupakan tingkatan taskon tertinggi untuk makhluk hidup. Kebanyakan ahli biologi sependapat bahwa makhluk hidup di muka bumi ini dikelompokkan menjadi lima kingdom. System klasifikasi lima kingdom ini diusulkan oleh Robert Whittaker pada tahun 1969 dan msih digunakan hingga saat ini. Kelima kingdom tersebut adalah Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.

Beberapa sumber referensi kini membagi organisme prokariota (Monera) menjadi kingdom Archaebacteria dan kingdom Eubacteria sehingga terdapat enam kingdom. Bahkan, ada pula usulan untuk menetapkan delapan atau lebih kingdom.

2.      Filum atau Divisi (Keluarga Besar)
Nama “Filum” hanya digunakan untuk dunia hewan, sedangkan dunia tumbuhan menggunakan nama “divisi”. Filum atau divisi terdiri atas organisme-organisme yang memiliki satu atau dua persamaan ciri.

3.      Kelas
Setiap filum atau divisi memiliki beberapa kelompok takson yang lebih rendah yang disebut kelas.

4.      Ordo (Bangsa)
Setiap kelas, baik tumbhan maupun hewan, terdiri atas beberapa ordo. Pada dunia tumbuhan nama ordo umumnua diberi akhiran ales.

5.      Family (Suku atau Keluarga)
Family adalah suatu kelompok organisme yang berkerabat dekat dan memiliki banyak persamaan ciri. Nama family untuk tumbuhan diberi akhiran –aceae. Adapun nama family untuk hewan biasanya diberi akhiran –idea.

6.      Genus (Marga)
Genus adalah nama takson yang lebih rendah daripada family. Beberapa genus membentuk satu family. Nama genus terdiri atas satu kata, huruf pertama ditulis dengan huruf capital, dan seluruh huruf dalam kata tersebut dicetak dengan huruf miring atau dibedakan dengan huruf lainnya.

7.      Spesies (Jenis)
Spesies atau jenis merupakan tingkatan takson yang paling rendah yang menjadi unit dasar klasifikasi. Spesies adalah suatu kelompok yang dapat melakukan perkawinan antarsesamannya untuk menghasilkan keturunan yang subur (fertile).

Dalam pemberian nama suatu spesies , para biologiwan menggunakan metode binomial nomenclature untuk memberi nama setiap makhluk hidup. Aturan pemberian nama suatu jenis makhluk hidup adalah sebagai berikut :
a.      Nama spesies terdiri atas dua kata, kata pertama merupakan bama genud, sedangkan kata kedua merupakan penunjuk jenis .
b.      Huruf pertama nama genus ditulis dengan huruf capital, sedangkan huruf pertama nama penunjuk jenisnya ditulis dengan huruf kecil.
c.       Nama spesies menggunakan bahasa Latin atau yang dilatinkan.
d.      Nama spesies harus ditulis berbeda dengan huruf-huruf lainnya. Misalnya jika dalam suatu teks hurufnya normal (tegak), nama spesies harus dicetak miring (italic). Demikian pula sebaliknya. Nama spesies juga dapat ditulis dengan cara diberi garis bawah pada setiap katanya.
e.      Jika nama spesies tumbuhan terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus digabung atau diberi tanda penghubung. Misalnya kembang sepatu ditulis Hibuscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
f.        jika nama spesies hewan terdiri atas tiga kata, nama tersebut bukan nama spesies, melainkan nama subspecies (anak jenis).
g.      Nama spesies juga mencantumkan inisial pemberi nama spesies tersebut misalnya jagung (Zea mays L.). huruf L tersebut merupakan inisial dari Linnaeus.