Friday, 9 February 2018

hati-hati dengan hati



Sistem Ekskresi Manusia

Pada manusia berlangsung tiga proses pengeluaran zat, yaitu sebagai berikut :
1.        Defekasi, yaitu proses pengeluaran sisa pencernaan atau feses
2.        Sekresi, yaitu proses pengeluaran hasil metabolisme yang masih dapat digunakan (enzim atau hormon) oleh tubuh
3.        Ekskresi, yaitu proses pengeluaran sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh dalam bentuk urine, keringat ataupun CO2.

Sistem ekskresi pada manusia terdiri dari paru-paru, hati, kulit, dan ginjal. Paru-paru merupakan alat pengeluaran sisa metabolisme berupa gas CO2 dan H2O (uap air). Usus juga mengeluarkan garam anorganik dan beberapa gas hasil pembusukan, termasuk amoniak pada saat melangsungkan proses pencernaan.

Hati sebagai kelenjar ekskresi menghasilkan empedu yang mengeluarkan zat ekskresi berupa kolesterol, pigmen bilirubin (hijau biru), dan biliverdin (kuning keemasan). Bolorubin akan dioksidasi menjadi urobilin (kuning kecokelatan) yang berfungsi memberi warna pada tinja dan urine.

A.    Organ-organ ekskresi
Organ ekskresi yang akan dibahas dalam bab ini adalah hati dan paru-paru. Organ lain seperti ginjal dan kulit telah kita pelajari pada bab sebelumnya.
1.      Hati
Dalam sistem pencernaan, hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar. Mengapa hati termasuk alat ekskresi? Cairan empedu (bilus) yang dihasilkan oleh hati merupakan produk ekskresi yang dibentuk dari perombakan atau pemecahan hemoglobin sel-sel darah merah yang telah usang. (umur sel-sel darah merah hanya sekitar 120 hari). Sel-sel darah merah yang telah mencapai masa akhir hidupnya ditelan oleh sel-sel fagositn(sel-sel Kupffer). Hemoglobin yang terdapat di dalam sel-sel darah merah akan di pecah menjadi globin, Fe, dan Hem. Globin yang merupakan protein di ubah menjadi asam amino dan dimasukkan ke dalam aliran darah untuk digunakan dalam sintesis protein baru. Besi dikeluarkan dari bagian molekul hem dan disimpan. Adapun hem akan diubah menjadi zat warna empedu, yaitu Biliverdin (hijau) dan bilirubin (merah). Di dalam saluran pencernaan, zat warna empedu itu diubah menjadi urobilin yang memberi warna kuning pada feses. Urobilin juga menyebabkan warna kuning pada urine. Cairan empedu dihasilkan secara terus-menerus dan jumlahnya mencapai satu liter setiap hari.
SKEMA PEMBENTUKAN UREA DI HATI
 


 
Skema perombakan sel darah merah
 
















Di dalam hati, asam amino yang tidak diperlukan dalam pembentukan protein diubah menjadi glikogen. Selama proses tersebut, bagian asam amino yang mengandung nitrogen,yaitu bagian amino (NH2), dikeluarkan dan diubah menjadi urea, kemudian diekskresi oleh ginjal. Ketika gugus NH2 dikeluarkan dari asam amino tertentu, ia membentuk amonia (NH3) atau ion amonium (NH4+). Amonia tersebut sangat beracun bagi sel-sel tubuh sehingga hati segera mengubahnya menjadi urea (CO(NH2)2) yang tidak berbahaya. Berbagai senyawa racun yang masuk ke dalam tubuh (dari obat-obatan ataupun dari hasil kerja bakteri usus besar) di ubah oleh hati menjadi bahan-bahan yang tidak berbahaya untuk kemudian diekskresi oleh ginjal dalam bentuk urine.

No comments:

Post a Comment